Oleh : Dvi Afriansyah

Menjadi pegawai atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan impian banyak orang termasuk yang baru menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Diperparah lagi dengan banyaknya para orang tua yang menyekolahkan anaknya demi menjadi PNS,

memang tidak salah dan sah-sah saja karena pola pikir yang selalu melihat bahwa bekerja disektor formal lebih kelihatan mapan dibanding yang bekerjadi sektor informal dipengaruhi oleh budaya masyarakat kita yang menilai berpakaian seragam lebih dihargai tidak lepas dari sejarah panjang bangsa kita yang ratusan tahun dijajah oleh Kolonial. Seolah – olah meneruskan budaya feodal warisan penjajah hal seperti itulah yang kemudian terbentuk berabad – abad menjadi sebuah budaya dan mempengaruhi pola pikir masyarakat kita.

Ekspektasi sebagian masyarakat yang menyekolahkan anaknya menjadi kaum pegawai baik itu PNS ataupun pegawai lainnya (BUMN, Swasta) dapat dilihat dengan animo setiap ada penerimaan CPNS, Honorer, maupun Lowongan pekerjaan. Alangkah mirisnya melihat hal seperti itu dimana banyak lulusan Sekolah atau Perguruan tinggi yang hanya berharap menjadi kaum pegawai.

Paradigma yang kian membelenggu harus dirubah Masyarakat melihat suatu pekerjaan dari bentuk pekerjaannya.Ini suatu pendidikan yang jelek, pendidik anak adopsian jaman kolonial yang mencoba mengkotak-kotakkan manusia dari pekerjaan. Padahal kita tahu semua pekerjaan menghasilkan sesuatu yang sama. Pendek kata “Banyak orang yang melihat suatu pekerjaan dari bentuk (pekerjaanapa) dari pada hasil pekerjaannya”. Paradigma baru hendaknya dimunculkan untuk merubahparadigma lama, yaitu: Melihat sesuatu dari hasil pekerjaannya. Tentunya hasiltersebut berada di wilayah Halal.

Sering terdengar perbincangan dikedai kopi seperti menjadi pegawai itu enak tidak berbuat apa-apa digaji ditambah kalau sudah tua dapat pensiun. Hal sepertiini adalah suatu pandangan yang keliru dalam memaknai suatu pekerjaan. Orang bekerja harus menghasilkan sesuatu bagi pihak lain artinya bekerja yang dilakukan memiliki makna hidup. Sedangkan untuk pensiunan di era sekarang bukan menjadi monopoli pegawai pemerintah, wirausahawan pun bisa merencanakan uang pensiunannya.

Padahal kalau melihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda, menjadi pegawai bukanlah satu-satunya pilihan terbaik. Peluang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan mapan merupakan bagian dari tujuan hidup bukanlah semata-mata didapat dengan menjadi pegawai. Berbakti terhadap nusa dan bangsa tidak harus selalu menjadi PNS. Banyak sekali peluang yang besar untuk mendapatkan kesejahteraan diluar lingkaran pegawai. Peluang menjadi seorang entrepreuner terbuka luas di negeri yang kaya ini, tinggal bagaimana kita memanfaatkan ilmu yang kita dapatkan dikampus sebagi bekal kita menangkap peluang atau merintis jalan usaha.

Tidak ada salahnya kita melirik Negara tetangga Singapura, sebuah Negara yang luasnya hanya 716,1 km2, tetapi menjadi macan ekonomi Asia Tenggara jauh meninggalkan Negara kita yang terkenal subur makmur dengan kekayaan alamnya. Apa yang menjadikan mereka kuat secara ekonomi adalah sebagian besar masyarakatnya menjadi entrepreuner/ pengusaha dant idak mengandalkan hidup menjadi pekerja/pegawai. Negara yang ekonominya kuat adalah Negara yang entrepreunernya banyak.

Dalam bukunya Mind Set, John Naisbitt seorang futuris terkemuka menulis suatu pernyataan yang patut direnungkan dan dipikirkan: Pemerintah hanya menciptakan segelintir lapangan pekerjaan; para pengusahalah yang menciptakan lapangan-lapangan kerja baru.
Sekarang kembali berpulang kepada para pelakunya, apakah masih ngotot menjadi Pegawai? Atau Wirausaha kalau sudah mentok tidak dapat menjadi pegawai, sebuah langkah yang patut di acungi jempol karena kesigapan menghadapi perubahan.

Jangan melihat seberapa jauh Anda telah melangkahkan kaki kalau sudah tahu salah cepat berbalik arah untuk memperbaikinya. Tidak hanya sarjana yang mencari pekerjaan saja, sarjana yang sudah mendapat pekerjaan, nasib mereka pun masih terancam dengan adanya PHK, mengingat kondisi perekonomian Indonesia masih saja belum bangkit dari keterpurukannya. Krisis global yang menginduk kepada Kapitalisme berimbas semakin tingginya angka pengangguran.

Faktor-faktor yang membuat mereka tidak bisa bersaing di dalam persaingan tingkat global di karenakan lingkungan lama yang masih tetap berpengaruh, budayakonsumtif yang masih tinggi, pola pikir masih instant, danbisa jadi kurikulum yang ada di dalam suatu universitas masih bersifat pragmatis atau kaku. Sudah saatnya para calon sarjana di Indonesia berfikiran out of the box.

Keluar dari paradigma lama yang beranggapan bahwa setelah lulus jadi sarjana selanjutnya melamar jadi karyawan atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).Namun sering kali, lulusan sarjana ini beranggapan bahwa berwirausaha itu banyak sekali hambatan yang dilaluinya, kenyataan ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki keinginan yang berbeda.

Tidak semua orang mau dan bersedia bersusah payah menjadi wirausahawan. Banyak yang masih senang dan suka menjadi pegawai biasa. Hidup aman dan uang datang tiap bulan. Namun tidak semua orang saat ini bisa menjadi bagian dari mereka yang hidup aman. Harus ada yang rela dan mau bersusah-payah untuk menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri. Karena memang lapangan kerja yang ada tak sanggup menampung seluruh masyarakat Indonesia yang ingin hidup aman menjadi pegawai atau karyawan.

Lebih membanggakan lagi, lulus dari perguruan tinggi langsung siap menerjuni dunia wirausaha. Menjadi Pegawai berarti mencari kehidupan buat diri sendiri. Berwirausaha berarti mencari penghidupan sendiri dan juga memberikan penghidupan bagi pihak lain. Penciptaan lapangan pekerjaan muncul di dunia wirausaha dan nilai plus untuk pihak yang memasuki dunia wirausaha.

Seandainya ribuan sarjana yang menciptakan lapangan pekerjaan masing-masing sebanyak satu orang, maka dua kali lipat dari ribuan tersebut, maka beban pengangguran akan teratasi. Angkatan kerja dengan tingkat pendidikan sarjana seharusnya sudah tidaklagi menjadi problem ketenagakerjaan di Indonesia.

Sebab, dengan tingkat pendidikan yang memadai seharusnya sarjana menjadi kontributor untukmemecahkan problem ketenagakerjaan. Paling tidak, para sarjana tidak semata- mata berrorientasi untuk terus menjadi pegawai terutama PNS, karena menjalani pekerjaan terhormat tidaklah harus menjadi pegawai atau PNS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lupakan Kebaikan, Maafkanlah Kesalahannya

Raihlah Masyarakat Madani dengan Pendidikan Islam