Kembalikan Jati Diri Mulai dari Keluarga

Tanjungpinang,24 Maret 2013
DVI AFRIANSYAH,S.Pd.I


BUDAYA dengan nilai-nilai luhurnya yang menjadi jati diri bangsa ini telah tergilas perkembangan zaman di seluruh dunia. Saat ini, banyaknya ditemukan orang-orang yang berfikir kerdil di sekeliling kita. Mereka hanya berorientasi pada materi yang takut lapar dan takut miskin yang rela menggadaikan jati diri dengan kesenangan dan kepentingan perut mereka yang sebenarnya akan habis sebelum mereka mati.
Sebuah pepatah bijak mengatakan ”Katakanlah benar apa yang benar, adil, jujur dan budiman; dan jangan ragu mengakui sesuatu yang tidak mampu diperbuat, jika memang dirimu tak mampu melaksanakannya,” atau dalam bahasa agama ”Katakanlah yang haq itu haq walaupun pahit akibatnya,”.
Kesanggupan mengatakan yang benar itu benar dan yang salah adalah salah, saat ini diyakini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berkarakter terpuji. Yaitu sebuah karakter orang yang tidak gemar mengumbar janji, mementingkan diri sendiri atau kelompoknya, atau yang secara sadar merugikan bangsa lewat berbagai cara. Ia adalah sosok manusia yang penuh keteladanan karena adanya pancaran dari kehidupan yang dilandasi iman dan taqwa, yaitu suatu kehidupan yang berdasarkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama yang dianut secara konsisten dan konsekuen.
Keteladanan semakin sulit dicari di negeri ini. Oleh karena itu, proses pembentukan karakter merupakan sebuah proses yang terus menerus dan tanpa henti serta dilakukan bottom up secara mandiri dan individual. Setelah individu-individu berada pada fungsi dan perannya dalam masyarakat maka mereka akan menjadi panutan bagi orang lain (terbentuk pola top down). Implementasi dua arah semacam ini diyakini akan mempercepat perbaikan karakter bangsa ini dan membentuk jati diri bangsa ini.
Jati diri diartikan sebagai pribadi manusia yang sesungguhnya untuk mewujudkan kredibilitas, integritas atau harkat, dan martabat seseorang. Jati diri adalah sifat dasar manusia, yang dianugerahkan oleh Tuhan semesta alam. Sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan, tentu jati diri baik adanya. Masalahnya adalah soal kerelaan kita untuk menampilkan jati diri itu. Sebab ada kalanya manusia lebih mementingkan penampilan luar dari pada penampilan pribadi yang sesungguhnya akibat munculnya kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.
Hati mereka boleh dibilang sudah mati, tidak bisa lagi untuk melihat kebenaran. Jika sudah demikian, sebenarnya tamatlah hidup orang itu karena yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. Kata-kata, sikap dan perilaku mereka sudah tidak tulus dan lebih senang memilih hal-hal yang semu dan lebih senang memakai topeng atau kedok. Hati yang mati juga menyebabkan orang tak lagi mempunyai empati terhadap orang lain, gagal mendata perasaan orang lain, sehingga kecerdasan emosionalnya menjadi terganggu. Orang yang mengalami gangguan dalam kecerdasan emosionalnya juga tidak akan mampu membedakan antara yang dikatakan seseorang lewat suatu reaksi dan penilaian tertentu.
Lalu mengapa kita tidak menjadi seorang pejuang tangguh yang mampu mengembalikan jati diri dan mulai ingin kembali ke jati diri yang sempurna itu. Walaupun tidak harus dikoordinir Instansi tertentu. Paling tidak kita ikut andil di dalamnya. Dengan cara-cara yang paling kita bisa dan memungkinkan melakukannya. Dengan memperbaiki diri kita, lingkungan kita, masyarakat kita, sosial dan budaya kita. Dan cara ”berpolitik” kita yang lebih
Harus diyakini keutuhan bangsa ini dan wibawa bangsa ini akan terus terangkat apabila dimulai dari diri kita sendiri. Percuma kalau kita menyuruh orang lain untuk berubah, tapi kita sendiri sama sekali tidak ada perubahan. Mengembalikan jati diri ini harus kita mulai dari diri kita dan keluarga kita. Karena keluarga adalah negara kecil di dalam negara. Ketika negara kecil itu baik maka negara besar yang menaunginya pun akan baik.
Kita tentu akan memilih sifat yang baik untuk membentuk jati diri. Tetapi, adakah semudah membalikkan tangan untuk mengubah diri agar lebih baik daripada yang ada sekarang? Contoh yang paling mudah untuk membentuk konsep jati diri itu adalah melalui agama itu sendiri, hal ini karena setiap agama menyarankan kepada kebaikan. Adakah kita bersedia menilai diri sendiri? Apakah kekuatan dan kelemahan pibadi kita? Bagaimanakah hendak membentuk jati diri mukmin yang dituntut
Pertama, cari dan akui kelemahan diri, ungkapkan dengan jujur, dan terimalah  sebagai tantangan yang harus dihadapi. Jangan ulangi kesalahan yang lalu.
Kedua, hidup bersama dengan orang yang sukses, bandingkan diri sendiri dengan mereka dan tutup kelemahan dengan kelebihan mereka. Orang kurang bijak hendaklah melihat kepada yang lebih bijak, yang malas bekerja hendaklah mengikut jejak yang rajin dan yang lemah semangat mencari kekuatan pada yang kuat. Begitu juga yang miskin mengambil iktibar pada si kaya, yang malas beramal duduklah bersama dengan ahli ibadah dan yang malas belajar mengambil hikmah dari yang rajin. Konsep ini disebut konsep taubat. Mengerti kesilapan, mengakuinya dan berjanji tidak akan mengulangi.
Sabda Rasulullah: ”Orang mukmin tidak akan terjatuh ke dalam satu lubang dua kali.” (Hadis riwayat al-Bukhari). Konsep ini dikenali sebagai ta’a wun yaitu bekerjasama dengan ikhlas untuk sama-sama menjadi hamba Allah yang terbaik. Boleh menjadi sumber kekuatan jati diri setiap mukmin.  Firman Allah: ”Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan takwa jangan bertolong-tolongan dalam kejahatan dan permusuhan.” (Surah al-Maidah, ayat 2).
Ketiga, jangan berhenti mengukir prestasi diri. Setiap hari penilaian jati diri kita hendaklah berjalan dengan tulus dan jujur. Imam al-Ghazali berpesan: ”Berwaspadalah dengan musuhmu satu kali, tetapi dengan sahabatmu seribu kali.” Sifat sahabat yang baik dan senantiasa memihak pada diri kita akan membela segala kelemahan diri. Berlawanan dengan musuh yang senantiasa mencari keaiban dan kekurangan untuk menyingkap rahasia diri kita.
Ketiga-tiga konsep ini boleh menjadi kekuatan hebat pribadi mukmin. Taubat, ta’awun dan muhasabah. Jangan biarkan diri dalam pandangan hina manusia yang mengakibatkan Allah langsung tidak akan memandang diri kita. Hal ini karena kita tidak ada kekuatan jati diri mukmin yang hebat. Hanya dengan jati diri mukmin yang sebenarnya, ketamadunan dan kecemerlangan umat Islam akan dapat ditonjolkan.

Apabila ada orang lain yang menilai diri kita sakit, tidak waras dan banyak kelemahan, emosi akan menggelegak mengalahkan kewarasan akal untuk menafikan penilaian itu. Pada waktu itu, ketahuilah bahwa kita sudah menolak untuk mengenal diri sendiri daripada persepektif orang lain. Malah, menutup pintu kebaikan pada sekeping hati dalam diri. Ada pepatah mengatakan: ”Sungguh rugi orang yang tidak ada musuh karena dari musuhlah kamu mengenal dirimu”.
Kenal kelemahan dan bagaimana hendak meningkatkan kekuatan yang ada. Sembahyang wajib boleh ditambah dengan yang sunat dan lebih khusyuk daripada kemarin. Nafsu amarah disiram dengan berpuasa dan sedekah. Konsep ini dikenali sebagai konsep muhasabah (akuntabilitas diri). Peningkatan kualitas kerja yang seiring dengan kualitas iman akan melahirkan pekerja yang mahir dan amanah, dedikasi dan profesional, serta kuat beribadah. Ukuran penilaian kita hendaklah mengikut neraca Allah yang Maha Menghisab. Jangan melakukan sesuatu, kecuali kita sudah memastikan perbuatan itu menghasilkan kebaikan dan pahala serta keridhaan Allah.
Mudah-mudahan, setelah kita memahami siapa kita, mengapa kita ada, dan mau kemana kita nanti, pikiran kita tidak galau lagi karena bingung tentang jati diri. Kini sudah jelas, apa yang perlu kita jalani dan konsekuensinya ke depan menghadapi perkembangan zaman. Dan inilah fokus kita saat ini, yaitu menjalani hidup untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr:18). *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lupakan Kebaikan, Maafkanlah Kesalahannya

Raihlah Masyarakat Madani dengan Pendidikan Islam